Mengenal Raudlah Masjid Nabawi

Jama’ah haji akan tinggal di Madinah sekitar 9 hari untuk melakukan arbain di masjid Nabawi. Salah satu tempat yang istimewa di masjid Nabawi yaitu Raudhah . Dari Abu Hurairah RA, Rosulullah SAW bersabda “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga.

Para jama’ah haji sebaiknya mengenal mana yang disebut lokasi raudhah, mengingat masjid Nabawi yang luas, saat itu jamaah haji dari seluruh dunia telah memadati masjid, dan perlu perjuangan tersendiri untuk berebut memasuki Raudhah. Jadi mengenal raudhah dan batas-batasnya akan membantu Jama’ah haji yang berkeinginan berdoa di sana

Bagaimana menemukan raudah ?

Masjid Nabawi sangat luas , karena bangunan yang sekarang ada adalah bangunan perluasan masjid lama. Raudhah berada di dalam bangunan masjid lama yang ditandai dengan kubah masjid berwarna Hijau Lumut sedangkan area Raudhah sendiri sebenarnya berada dibawah kubah tsb, ditandai dengan ciri karpet yang berwarna hijau, berada diantara tiang tiang yang berwarna abu-abu


Memang didalam Masjid Nabawi lama ada banyak tiang yang berbentuk sama akan tetapi khusus area Raudah dibatasi oleh tiang yang berbeda. Semua pintu (Bab) di Masjid Nabawi di beri nomor , dibanding pintu lain ,  pintu yang menuju Raudhah dijaga lebih ketat oleh petugas guna mengatur arah pergerakan jamaah, akan tetapi untuk mencapai ke Raudhah paling dekat, bagi jamaah pria dapat masuk melalui beberapa pintu antara lain Bab Abubakar Siddiq , Bab Al Rahmah, Bab As Salam dan bagi jamaah wanita dapat masuk melalui pintu Bab Ustman Bin Affan ,  (atau diatur khusus oleh Askar wanita)  Biasanya setelah selesai berziarah ke makam Nabi jamaah  akan digiring satu arah keluar oleh petugas melalui pintu Bab Al Baqi . Bagi jamaah wanita waktu kunjungan dibatasi yaitu pagi hari mulai sekitar pukul 08.00 – 11.00 WAS dan siang hari setelah sholat Dzuhur sampai menjelang sholat Asar serta pada malam hari setelah sholat isya. Bagi Jamaah pria Raudhah sebenarnya dibuka 24 jam akan tetapi setelah lewat sholat Isya (sekitar pukul 22.00 WAS) hanya pintu tertentu saja (pintu 1 dan pintu 2) yang dibuka .

1. TIANG DUTA/UTUSAN: Nabi Shallallahu alaihi wasallam menggunakan tempat ini untuk menemui para utusan yang datang. Beberapa Sahabat terkemuka duduk disekitar beliau selama pertemuan berlangsung.

2. TIANG PENGAWAL: Menjadi tempat berdiri para pengawal Nabi Shallallahu alaihi wasallam . Matori berkata, “Pintu rumah Aisyah RA berhadapan dengan tiang ini, dan Nabi Shallallahu alaihi wasallam melalui pintu ini menuju ke Masjid Nabawi.”

3. TIANG TEMPAT TIDUR: Abdullah bin Umar RA bercerita, “Nabi Shallallahu alaihi wasallam menggunakan tempat ini sebagai tempat tidur beliau selama I’tikaf.

4. TIANG ABU LUBABAH: Tertulis padanya. Seperti disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bermaksud untuk menghukum bani Quraizzah (sebuah suku Yahudi) atas pengkhianatannya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam . Abu Lubabah RA ditunjuk sebagai penengah. Dia secara tidak sengaja membocorkan rahasia Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada suku Yahudi itu. Abu Lubabah segera menyadari kesalahannya dan mengikat dirinya sendiri pada tiang ini, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya. Setelah tujuh hari, Nabi Shallallahu alaihi wasallam menerima wahyu mengenai diterimanya taubat Abu Lubabah dan melepaskan ikatanya dengan tangan beliau sendiri. Al Qur’an, Surat Al Anfal, Ayat 27 – 28 diwahyukan untuk meberikan kepada kita sebuah pelajaran. Yakni mengkhianati kepercayaan adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal bagi para Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam , sehingga mereka melakukan tindakan yang luar biasa untuk memperbaiki kesalahannya.

5. TIANG AISYAH: Tabrani menyebutkan Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada tempat yang sangat penting di dalam Masjid Nabawi yang mulia, jika seorang mengetahuinya, mereka akan mengadakan undian untuk mendapatkan kesempatan agar bias shalat di sana”.

Suatu hari para Sahabat bertanya kepada Aisyah RA tentang tempat ini. Beliau menolak untuk memberitahukan tempat tersebut. Akhirnya para Sahabat pergi, sedangkan Aisyah RA masih bersama dengan keponakannya Abdullah bin Zubair RA. Belakangan para Sahabat memperhatikan bahwa Abdullah bin Zubair RA melakukan shalat dekat dengan tiang Aisyah. Para Sahabat meyakini bahwa Aisyah RA memberitahukan tempat tersebut secara rahasia kepada keponakannya. Nabi Shallallahu alaihi wasallam pernah mengimami shalat dari titik ini selama beberapa hari setelah perubahan qiblat dari Masjid Al Aqsa ke Ka’bah di Makkah. Belakangan, beliau selalu mengimami shalat dari titik yang sekarang dikenal sebagai Mihrab Nabawi As Syarif.

6. TIANG MUKHALLAQAH: Jabir RA meriwayatkan seperti disebutkan dalam hadits Buhari, “Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersandar pada sebatang pohon kurma (yang awalnya terletak pada tempat dimana tiang ini berada) ketika melakukan khutbah Jumat, kaum Ansar dengan hormat menawarkan pada Nabi Shallallahu alaihi wasallam , kami dapat membuat sebuah mimbar untukmu, jika engkau menyetujuinya”.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam menyetujuinya dan sebuah mimbar yang terdiri dari 3 anak tangga dibangun. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wasallam duduk di atas mimbar ini untuk berkhutbah, para Sahabat mendengar batang pohon kurma itu menangis seperti anak kecil. Nabi Shallallahu alaihi wasallam mendekati pohon yang sedang menangis ini dan kemudian memeluknya. Pohon ini lalu tenang setelah sebelumnya terisak-isak seperti onta betina. Pohon kurma tersebut menangis karena ia tidak digunakan lagi untuk mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala .Sejak itu batang pohon tersebut diberi sejenis pewangi yang disebut Khaluq. Dan kemudian, tiang dimana pohon kurma itu dulu berada, dikenal dengan sebutan tiang Mukhallaqah.

7. MIHRAB NABAWI: Tidak ada mihrab di dalam Masjid Nabawi selama periode pemerintahan Nabi SAW dan empat Khalifah yang pertama. Pada tahun 91 H, Umar bin Abdul Aziz pertama kali melakukan shalat di sini di dalam sebuah bentuk mihrab. Jika kita berdiri di dalam mihrab ini dan melakukan shalat, tempat sujud kita akan terletak di tempat dimana kaki Nabi Shallallahu alaihi wasallam berpijak. Dinding tebal mihrab ini menutupi tempat sujud Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang sebenarnya.

8. MIHRAB USTMANI: Khalifah Utsman RA mengimami shalat di tempat ini. Sekarang, Imam Masjid Nabawi juga mengimami shalat di sini. Umar bin Abdul Aziz kemudian membangun sebuah mihrab di sini.

9. MIHRAB HANAFI: Sebelumnya Imam shalat dari empat Mazhab (Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali) mengimami shalat di Masjid Nabawi secarah terpisah pada waktu yang sedikit berbeda dan tempat yang berbeda. Imam Hanafi mengimami shalat pada tempat ini. Namun kini, hanya satu shalat berjamaah yang diselanggarakan di Masjid Nabawi, yang dipimpin oleh Imam dari Mazhab Hambali. Hal ini berlaku sejak kekuasaan dipegang oleh Pemerintahan Saudi.

10. MIHRAB TAHAJUD: Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam melakukan shalat tahajjud di tempat ini.

11. MIMBAR: Seperti disebutkan dalam hadits Bukhari Muslin dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda “Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga dan mimbarku akan berada di telaga Kautsar pada hari Kiamat”. Berbagai pemerintahan muslim mengirimkan mimbar untuk Masjid Nabawi dari waktu ke waktu. Mimbar yang ada sekarang, dikirim oleh Sultan Murad ke-3 dari Dinasti Usmani pada tahun 998 H.

12. TEMPAT MUAZZIN: Tempat ini, berupa balkon segi empat, terletak di sebelah Utara Mimbar Nabi. Tempat ini selain sebagai tempat adzan juga sebagai tempat shalat muadzin dan untuk menguatkan suara takbir pada shalat lima waktu.

13. PANGGUNG DISEKITAR TEMPAT TAHAJJUD: (tidak ada keterangan – pent.)

14. PANGGUNG TEMPAT PETUGAS KEAMANAN: Jika kita memasuki Masjid Nabawi dari Bab Jibril, panggung ini akan berada di sebelah kanan. Dibangun oleh Sultan Nuruddin Zanki. Panggung ini sebenarnya bukanlah tempat dari Ahlu Suffah, seperti perkiraan banyak peziarah.

15. TEMPAT AHLU SUFFAH: Suffah berarti tempat berteduh. Sahabat Nabi yang miskin dan tidak memiliki rumah, bertimpat tinggal di Suffah. Di sini mereka mendapat pendidikan tentang Islam dan mengamalkannya. Jika kita berjalan dari tiang Aisyah berlawanan dengan arah qiblat, Suffah berada setelah tiang ke-5. Namun setelah Nabi SAW memperluas Masjid pada tahun ketujuh Hijriah, Suffah dipindah sekitar sepuluh meter kea rah Timur, seperti yang tergambar pada denah Masjid Nabawi.

16. BAB (PINTU) BAQI’: Pintu ini berhadapan dengan Bab Salam.

17. BAB (PINTU) JIBRIL: Terletak di bagian Timur, disebut juga Bab Nabi, karena beliau selalu masuk melalui pintu ini. Adapun alasan penyebutan Bab Jibril adalah sebuah riwayat dari Aisyah RA, “Ketika Nabi SAW pulang dari Khandaq, dan meletakkan senjata kemudian mandi, Jibril AS mendatangi Beliau seraya berkata, ‘Engkau meletakkan senjatamu?, demi Allah kita belum (bisa) meletakkan senjata, pergilah menuju mereka’, Nabi SAW berkata, ‘kemanakah?’, Jibril AS menjawab, ‘ke sini’, dia menunjuk Bani Quraizzah. Maka Nabi SAW keluar menuju mereka.

18. BAB (PINTU) NISA: Pintu ini dibuka oleh Umar ibn Khattab tahun 12 H. Beliau mengatakan, “Alangkah baiknya kalau pintu ini dikhususkan untuk wanita”.

19. BIR (SUMUR) HA: Jika kita memasuki Masjid dari bagian paling kiri dari Bab Fahd, sumur ini berlokasi sekitar15 meter ke dalam Masjid dan ditandai dengan 3 lingkaran. Nabi SAW terkadang mendatangi sumur ini dan meminum airnya. Sumur dan taman yang mengelilinginya dimiliki oleh Abu Talhah. Ketika dia mendengar ayat 92 surat Ali Imran yang berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Abu Talhah RA segera mengimfakkan taman ini karena mengaharapkan Ridha Allah SWT. Inilah contoh bagaimana para Sahabat berekasi terhadap ayat-ayat al Qur’an dan secara spontan langsung mengerjakan perintah Allah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

20. BAB (PINTU) SALAM: Umar ibn Khattab RA membuka pintu ini yang terletak di tembok Masjid bagian Barat, ketika dilakukan perbaikan Masjid tahun 12 H. Dinamakan Bab as Salam karena letaknya sejajar dengan tempat penghormatan berupa salam kepada jasad Rasulullah SAW.

21. RUMAH ABU BAKAR RA: Jika kita berjalan dari mimbar melalui Bab Siddiq, rumah ini berlokasi setelah tiang ke-5 sejajar dengan Bab Siddiq. Suatu hari Nabi SAW bersabda, “Semua pintu rumah-rumah yang terbuka langsung ke dalam Masjid harus ditutup kecuali pintu rumah Abu Bakar”. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa Abu Bakar RA akan menjadi khalifah pertama.

Sambut Musim Haji, Masjid Nabawi Terbuka 24 Jam

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, masjid Nabawi dibuka 24 jam pada musin haji, pada tahun-tahun sebelumnya dengan berbagai pertimbangan, termasuk pertimbangan keamanan, semua pintu masuk Masjid Nabawi ditutup dari pukul 22.00 hingga pukul 03.00 waktu Arab Saudi (WAS). Mish’al bin Salim, salah seorang petugas penjaga pintu Masjid Nabawi, membenarkan adanya peraturan baru tersebut. Menurutnya, sejak musim haji tahun 2007 Masjid Nabawi akan dibuka 24 jam setiap harinya pada bulan Ramadhan serta pada musim haji. Namun demikian, Kata Mish’al, tidak semua pintu masjid dibuka pada tengah malam. “Hanya pintu 1 dan pintu 2 yang dibuka, selain itu akan ditutup. Jamaah yang datang dari arah pintu lainnya silakan memutar jika ingin masuk masjid,” ujarnya. Pintu 1 dan pintu 2 adalah pintu mengakses Masjid Nabawi paling dekat dengan posisi makam Nabi Muhammad dan Roudloh. Kebijakan baru itu disambut baik oleh petugas pelayanan haji. Sekretaris panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) Indonesia untuk daerah kerja (Daker) Madinah, Mucholi Djimun, mengatakan dengan adanya kebijakan baru tersebut diharapkan para jamaah calon haji tidak perlu lagi perlu berebut masuk. Semua calon jamaah haji dari Indonesia, sebelum diantar ke Makkah untuk berhaji, terlebih dahulu akan diinapkan di Madinah selama sembilan hari untuk memberi kesempatan melakukan arba’in (sholat berjamaah 40 kali berturut-turut di Masjid Nabawi), mengunjungi makam Nabi Muhammad dan mengunjungi Roudloh. Mucholi memaparkan pada tahun-tahun sebelumnya, sejak tengah malam puluhan ribu jamaah selalu berjubel di depan pintu masing masih tertutup agar mendapatkan tempat di dalam masjid. Beberapa tahun terakhir musim haji bertepatan dengan musim dingin di Madinah sehingga kondisi ini sering menggangu kesehatan jamaah. “Biasanya mereka akan menunggu berjam-jam di pelataran masjid dalam cuaca sangat dingin. Tidak sedikit yang sakit karenanya. Dengan kebijakan baru ini, diharapkan jamaah menjadi lebih longgar waktu dan tempatnya untuk memasuki masjid, tanpa perlu berdesakan,” ujarnya. (Muchus/MCH Madinah)

 

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>